efek stres pikiran

Dampak atau Efek Stres Pikiran

Dampak atau Efek Stres Pikiran

Setiap waktu, Anda dapat saja mengalami stres, bisa karena pekerjaan, masalah keuangan, masalah dengan pasangan ataupun keluarga, atau bisa saja hanya karena kemacetan di jalan atau hal yang tidak terduga. Hal-hal kecil yang membuat tensi Anda menjadi sedikit naik, bisa saja membuat tubuh Anda menjadi stres. Namun, sebaiknya kelola stres Anda sebisa mungkin. Karena dampak stres pada tubuh sangat banyak dan pastinya akan merugikan kesehatan Anda.

Apa itu stres?

Stres bisa terjadi karena perubahan lingkungan di sekitar kita, sehingga tubuh akan bereaksi dan meresponnya sebagai perlindungan. Tubuh bereaksi terhadap stres dengan cara memberi respon fisik, mental, dan emosional.

Tubuh akan bereaksi terhadap segala yang dianggapnya sebagai bahaya, entah itu benar-benar membahayakan atau tidak. Ketika tubuh Anda merasa terancam, maka dalam tubuh akan terjadi reaksi kimia yang memungkinkan untuk mencegah dari cedera. Reaksi ini disebut dengan “fight-or-flight” atau respon stres.

Bagaimana dampak stres pada tubuh?

Ketika Anda sedang merasa stres, semua sistem pada tubuh Anda akan meresponnya melalui cara yang berbeda-beda. Stres kronis bisa berdampak pada kesehatan Anda secara keseluruhan.

Pada sistem saraf pusat dan endokrin

Sistem saraf pusat merupakan yang paling bertanggung jawab dalam merespon stres, mulai dari pertama stres muncul sampai stresnya menghilang. Sistem saraf pusat menghasilkan respon “fight-or-flight” ketika tubuh mengalami stres. Juga, memberikan perintah dari hipotalamus ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dan juga kortisol.

Saat kortisol dan adrenalin dilepaskan, hati menghasilkan lebih banyak gula pada darah untuk memberikan energi pada tubuh Anda. Jika tubuh Anda tidak menggunakan semua energi tambahanya, maka tubuh akan menyerap gula darah kembali. Namun, bagi orang yang rentan dengan diabetes tipe 2 (seperti orang obesitas), gula darah ini tidak bisa diserap seluruhnya sehingga mengakibatkan kadar gula darah meningkat.

Pada sistem pernapasan

Stres akan membuat pernapasan Anda lebih cepat sebagai upaya untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini mungkin tidak masalah untuk banyak orang, tetapi bisa menyebabkan masalah pada orang dengan asma ataupun emfisema. Napas cepat atau hiperventilasi juga bisa menyebabkan serangan panik.

Pada sistem kardiovaskular

Ketika Anda mengalami stres akut (stres dalam waktu singkat, seperti karena terjebak macet di jalan), detak jantung menjadi meningkat, serta pembuluh darah yang menuju ke otot besar dan lalu jantung akan melebar. Hal ini menyebabkan peningkatan volume darah yang dipompa menuju ke seluruh tubuh dan meningkatkan tekanan darah. Pada saat stres, darah perlu dialirkan dengan cepat pada seluruh tubuh (terutama otak dan hati) untuk membantu menyediakan energi bagi tubuh.

Pada sistem pencernaan

Saat stres, peningkatan detak jantung dan pernapasan bisa mengganggu sistem pencernaan Anda. Anda mungkin akan makan lebih banyak atau lebih sedikit dari pada biasanya. Risiko Anda mengalami heartburn,  mual, refluks asam, muntah, atau sakit perut juga meningkat. Stres juga bisa memengaruhi pergerakan makanan dalam usus Anda, sehingga Anda bisa mengalami diare atau sembelit.

Pada sistem otot rangka

Otot-otot Anda akan menegang ketika stres dan kemudian akan kembali normal lagi saat Anda sudah tenang. Namun, jika Anda mengalami stres yang berkelanjutan, maka otot Anda tidak akan mempunyai waktu untuk rileks. Sehingga, otot-otot yang tegang ini akan mengakibatkan Anda mengalami sakit kepala, nyeri punggung, hingga nyeri di seluruh tubuh.

Pada sistem reproduksi

Stres juga berpengaruh pada gairah seksual. Mungkin gairah seksual Anda akan menurun ketika Anda sedang mengalami stres kronis. Namun, pria lebih banyak menghasilkan hormon testosteron ketika stres, yang dapat meningkatkan gairah seksual dalam jangka pendek. Jika stres berlangsung pada waktu lama, kadar hormon testosteron pria akan mulai menurun. Hal ini bisa mengganggu produksi sperma, yang menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.

Sedangkan, pada wanita, stres bisa memengaruhi siklus menstruasi. Ketika stres, Anda mungkin mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, tidak mengalami menstruasi sama sekali, atau bahkan mengalami menstruasi yang lebih berat.

Pada sistem imun

Ketika Anda stres, tubuh akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Jika stres yang Anda rasakan bersifat sementara saja, ini akan membantu tubuh Anda dalam mencegah infeksi serta penyembuhan luka. Namun, jika stres terjadi dalam waktu lama, maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat yang asing. Sehingga, orang yang sedang mengalami stres kronis akan lebih rentan terkena penyakit, seperti influenza, flu biasa, atau penyakit infeksi lainnya. Stres kronis juga akan membuat Anda lebih lama untuk sembuh dari sakit atau cedera.

Baca juga

 

 

Tinggalkan Komentar